Tuesday, September 11, 2018

Jangan Hambar Lagi, Sayangi Keluargamu Alasannya Ialah Kau Tidak Pernah Tahu Apa Yang Akan Terjadi…

Posted by Mr sumari at September 11, 2018 0 Comments

Cinta itu harus benar-benar dijaga..

Aku hidup bersama dengan kakekku ketika saya berusia 15 tahun.

Pada hari itu, saya pergi bermain bersama dengan temanku hingga jam 10 malam. Dan sesampainya saya di rumah, saya gak ngobrol dengan kakek sama sekali. Seperti biasa, saya pun mengunci kamarku, kemudian saya menelepon temanku dan bergosip dengan sangat gembira. Waktu itu sempurna jam 11 malam, kakek pun tiba mengetuk pintu kamarku sambil memanggil namaku. Sebelum kakek benar-benar hingga ke kamarku dan mengetuk pintu, saya sudah mendengar bunyi langkah kakinya. 

Aku pun segera menghentikan segala yang saya lakuin pada ketika itu. Aku hanya bergumul dalam hati, "Aduh, nyebelin banget deh! Gak tau deh ia mau ngapain? Mending saya akal-akalan tidur aja deh." Aku pun tidak memperdulikannya ketika kakek memanggil namaku dua kali dengan pelan-pelan. Dia pun tidak memanggilku lagi alasannya ialah tidak ada balasan dariku dan menerka saya sudah tidur. 

Jam 6 pagi, sebuah telepon pun berbunyi.

"Halo?"

"Halo, maaf mengganggu, mau tanya nih, kakek ada di rumah gak?"

"Ini siapa ya?"

"Apakah kau cucu perempuannya?"

"Iya, benar."

"Aku ialah petugas pemadam kebakaran. Kami dulu pernah memasang alarm gawat darurat di rumahmu alasannya ialah kami lihat kakekmu hidup sendirian saja. Tetapi sudah 2 jam ini kakekmu tidak ada respon sama sekali. Apakah kau sanggup membantu kami untuk mengecek keadaan kakekmu, mungkin ia sedang mandi atau pergi keluar?"

Aku pun bergegas pergi ke kamar kakek dan pribadi menjerit ketika saya melihat apa yang ada di depanku, "Kakek! Kakek!" Aku memanggilnya sambil menggoyangkan seluruh badannya. Badan kakek sudah sangat dingin ketika saya memegangnya. Dengan sangat ketakutan pun saya mencoba untuk mengangkat tanganku ke hidungnya untuk melihat apakah kakekku masih bernapas atau tidak. Tidak ada. Aku pun masih belum menyerah, kucoba untuk mengecek denyut nadi di tangannya. Dan yang kudapat, tidak ada lagi…

Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, saya pun mengangkat telepon dan pribadi berkata dengan bunyi yang gemetar, "Kakekku sudah tidak bernapas lagi!"

Dan di seberang sana hanya berkata, "Kamu jangan panik dulu ya, kami akan mengirimkan orang kesana."

Aku pun berlutut di samping daerah tidur sambil menangis, "Kakek! Bangun dong, kek! Aku sangat sayang padamu. Maafkan aku, kakek cepetan bangun, ya? Jangan tinggalkan aku!"

Setelah hingga di rumah sakit, kakek didiagnosa mengalami penyumbatan pada jantungnya yang akibatnya menjadikan ia meninggal dunia. Dia bahkan telah meninggal 2-3 jam yang lalu.

Aku yang biasanya tidak suka menangis di depan orang lain pun tidak sanggup menahan tangisanku lagi. Apa yang ingin kakek katakan kepadaku ketika kakek memanggilku waktu itu? Apakah ingin bilang jikalau ia sedang tidak yummy badan? Kenapa saya tidak memperdulikannya? Kalau saja saya tidak akal-akalan tidur mungkin saya sudah mengantarnya ke rumah sakit. Mungkin saja masalahnya tidak akan serumit ini... Pulang rumah, masuk ke kamar, lihat komputer terus-terusan, setiap hari saya pribadi meletakkan uang sarapan di atas meja, dan hari ini pun tidak ada bedanya sama sekali. 

Sekarang kakek sudah pergi, saya gres menyadari bahwa saya sangat padanya. Jika saya ingat-ingat lagi, saya sudah usang sekali tidak melihat kakek tertawa. Setiap kali saya pulang ke rumah dan balik ke kamar, kamarku sudah higienis dan rapi, bajuku bahkan sudah terlipat rapi. Hal yang dari dulu saya benci kini menjadi hal yang saya rindukan. Kebiasaan ini pun menciptakan rumah menjadi sangat sunyi.

"Sudah bawa kunci belum? Udah makan belum? Tidur pagian ya! Jangan main komputer lagi! Jangan pulang malam-malam, pakai yang lebih tebal ya soalnya diluar cuacanya lagi dingin. Jangan menelepon terus dong. Masa kamar cewek awut-awutan begini? Udah ngerjain peer belum?" Sekarang semuanya ini hanya menjadi kenangan saja.

Setelah bencana ini, saya pun mulai mencar ilmu untuk memperhatikan keluargaku dan tidak akan hirau taacuh dengan mereka alasannya ialah saya tidak ingin bencana ini terulang lagi! Penyesalan ini sudah cukup membuatku sakit sekali saja. (cerpen.co.id)

Share This Post

Get Updates

Subscribe to our Mailing List. We'll never share your Email address.

0 comments:

Recent Articles

Blogroll

Recent News

© 2014 Cahaya Inspirasi.
Powered by Themes24x7 .
back to top