Tuesday, September 11, 2018

Pesan Untuk Suamiku Yang Telah Pergi Selamanya: Maafkan Aku..

Posted by Mr sumari at September 11, 2018 0 Comments

Ummu Salamah ra. (Istri Nabi) meriwayatkan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Seorang perempuan, yang ditinggal mati suami dan sang suami tersebut senang padanya, akan masuk Surga”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Suamiku sekarang telah tiada dan penyesalanku yg terus ada
Ini yakni kisah kasatmata di kehidupanku
Seorang suami yg kucintai yang sekarang telah tiada
Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku
Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku

Suamiku yakni seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi menyerupai ketika ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan saya menyambutnya dengan amarah,tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah.

Selalu kukatakan pada beliau bahwa beliau tak peduli padaku,tak mengerti aku,dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi sekarang saya tahu.

Semua ucapanku selama ini salah.dan hanya menjadi penyesalanku alasannya beliau telah tiada.

Temannya menyampaikan padaku sepeninggal kepergiannya. Bahwa beliau selalu membanggakan saya dan anakku di depan rekan kerjanya.

Dia berkata, “Setiap kali kami ajak beliau makan siang, mas Anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali, alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu saya sempat menanyakan kenapa beliau jarang sekali mau makan siang, beliau menjawab”. Aku belum melihat istriku makan siang dan saya belum melihat anakku minum susu dengan riang.lalu bagaimana saya bisa makan siang.” Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu yakni sosok pemimpin yang hebat. Selalu bisa menunjukkan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”

Aku menahan air mataku alasannya saya tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku murung alasannya ketika ini saya sudah kehilangan sosok yang hebat.

Teringat akan amarahku pada suamiku, saya selalu menyampaikan beliau slalu menyibukkan diri pada pekerjaan,dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan saya tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi :

“Perusahaan kecil CV. Anwar Sejahtera di berdiri atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang menunjukkan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan menyerupai ibumu. Tapi kau yakni laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kau harus menjadi pria hebat. Dan ayah rasa,kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan yakni kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin, sosok yang harus berpengaruh menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kau sanggup menjadi menyerupai itu”

Membaca itu, benar-benar gres kusadari.betapa suamiku mengasihi putraku. betapa beliau mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa beliau memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “Ibu capai? Istirahat dulu saja”
Dengan berangasan kukatakan, “Ya terang saya capai, semua pekerjaan rumah saya kerjakan. Urus anak, urus cucian, masak, ayah tahunya ya pulang tiba bersih. titik”.

Sungguh,bagaimana perasaan suamiku ketika itu. Tapi beliau hanya membisu saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur menciptakan teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban beliau sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jikalau salah niscaya sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan beliau jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku sesudah terkena serangan jantung di ruang kerjanya. Tepat sesudah saya menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh saya berdosa. Selama hidupnya tak pernah saya tahu bahwa beliau mengidap penyakit jantung. Hanya sesudah sepeninggalnya saya tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik seorang hebat jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat beliau menanyakan pada suamiku:

“Pak kenapa cari klinik yang termurah? Saya rasa bapak bisa berobat di kawasan yg lebih mahal dan lebih mempunyai pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula.”

Dan suamiku menjawab, “Tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja, saya ingin tahu seberapa usang saya sanggup bertahan. Tidak lebih. Dan saya tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan hingga istriku tahu saya mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku alasannya iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas”.

Tuhan.. Maafkan hamba Tuhan, hamba tak bisa menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat menunjukkan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus mengasihi keluarga ini. Aku aib pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang sekarang ada.

Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang tiba di final tak mempunyai kegunaan apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.

Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa beliau sadari.

Banggalah pada suamimu, alasannya ucapan itu yakni derma yang paling gampang dan paling indah jikalau suamimu mendengarnya.

Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya semoga beliau mencicipi ketenangan sesudah menahan beban berat di luar sana.

Sambutlah dengan penuh rasa tulus nrimo untuk mengasihi suamimu.
Selagi beliau kembali dalam keadaan sanggup membuka mata lebar-lebar.
Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan saya sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku akad pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan menyerupai caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku gembira padamu,aku sayang padamu.

Istrimu

Allah SWT berfirman:


‘Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban berdasarkan cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya.”
(Al Baqarah : 228)

“Isteri-isterimu yakni (seperti) tanah kawasan kau bercocok tanam, maka datangilah tanah kawasan bercocok-tanammu itu bagaimana saja kau kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kau kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (Q.S.al-Baqoroh (2) :223)

“Kaum pria itu yakni pemimpin bagi kaum wanita, oleh alasannya Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan alasannya mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh alasannya Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kau khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di kawasan tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jikalau mereka menaatimu, maka janganlah kau mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa: 34)

Rasulullah SAW bersabda yang Artinya :

“Seorang perempuan tidak patuh pada suaminya dan beliau tidak akan bisa tanpa suaminya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Mukmin yang paling tepat imannya yakni yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian yakni yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Ahmad)

“Sebaik-baik kalian, yakni orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan Aku yakni orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmizi)

“Laki-laki (suami) yakni pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) wacana mereka.” (HR. Al-Bukhari)

“Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jikalau ia makan dan memberi pakaian kepadanya jikalau ia berpakaian dan dihentikan memukul mukanya dan dihentikan memperolokkan beliau dan juga dihentikan meninggalkannya kecuali dalamtempat tidur (ketika isteri membangkang).”
(Hadist Riwayat: Abu Daud)

Share This Post

Get Updates

Subscribe to our Mailing List. We'll never share your Email address.

0 comments:

Recent Articles

Blogroll

Recent News

© 2014 Cahaya Inspirasi.
Powered by Themes24x7 .
back to top