Tuesday, September 11, 2018

Siapa Saja Manusia Yang Dapat Menyebrangi Jembatan Shiratal Mustaqim Sehabis Maut Maut Menjemputnya?

Posted by Mr sumari at September 11, 2018 0 Comments

Gambaran perihal jembatan Shiratal Mustaqim

عن النواس بن سمعان عن رسول الله صلى الله عليه وسلَّم قال ضَرَبَ اللهُ تعلى مَثَلاً صِرَاطاً مُسْتَقِيْمًا ، وَعَلَى جَنْبَتِي الصِّرَاطِ سُوْرَانِ ، فِيْهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ ، وَعَلَى الأبْوَابِ سُتُوْرٌ مُرْخَاةٌ ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَطِ دَاعٍ يَقُوْلُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ! ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيْعًا وَلاَ تَتَعوَّجُوا ، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ ، فَإِذَا أَرَادَالإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الأبْوابِ قَالَ: وَحْيَك لاَ تَفْتَحْهُ ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ ، فَالصِّرَاطُ الإسْلاَمَ ، وَاسُّوْرَانِ حَدُوْدُ اللهِ تَعَلَى ، والأبْوابُ المفتَّحَةُ محارِمُ الله تعَالى ، وذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللهِ ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْق وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

Terjemahan:
Daripada Nawwas Bin Sam’aan daripada Rasulullah (sallallahualaihi wasalam) sabdanya: “Allah menciptakan perumpamaan perihal Shiratal Mustaqim bahwa pada dua sisinya (kiri dan kanan) ada dua pagar, dan pada kedua-dua pagar tersebut terdapat banyak pintu yang sedang terbuka, dan pada tiap-tiap pintu itu pula ada tabir yang menutupinya, dan di atas pintu masuk ke jalan yang lurus itu ada penyeru yang memanggil: Hai sekalian manusia, masuklah kau semua ke dalam “Jalan Yang Lurus” ini dan janganlah menyimpang (melencong)!, dan ada pula penyeru yang berada daripada atas jalan itu yang jikalau insan ingin membuka sedikit tabir epilog pintu itu, kemudian ia berkata: Celaka engkau, janganlah engkau buka tabir itu!

Sebab jikalau engkau membukanya pasti engkau akan terjerumus ke dalamnya. Jalan yang lurus itu yakni Islam dan dua pagar itu ialah batasan-batasan Allah (Hududullah), pintu-pintu yang terbuka itu larangan-larangan Allah dan penyeru yang memanggil dari pintu masuk ke jalan itu ialah Kitabullah (Al-Quran), dan penyeru yang berada di atas jalan itu pula ialah peringatan daripada Allah yang terdapat pada hati setiap muslim”.

[Hadis Hasan Sahih Riwayat Imam Ahmad]

Mukaddimah:

Shiratal Mustaqim yakni titian atau jembatan yang mesti dilalui oleh setiap insan di alam alam abadi nanti. Titian inilah yang menghubungi antara Mauqif (Padang Mahsyar) dengan Jannah (Syurga) dan di bawah titian terdapat Naar (Neraka). Keadaan orang yang meniti di atasnya dan kecepatannya tidak sama, ada yang menyerupai kerdipan mata, ada yang menyerupai kilat, ada yang menyerupai angin dan sebagainya. Dan ada pula yang terjatuh di tengah jalan dan pribadi masuk neraka.

Keadaan insan di atas Shiratal Mustaqim di alam sana akan sama betul dengan keadaan insan saat mereka berada di atas Shiratul Mustaqim di dunia ini. Kalau saat di dunia ini perjalanan mereka tetap di atas jalan yang lurus dan tidak melencong ke kiri dan ke kanan, maka di alam abadi nanti nasib mereka juga akan demikian, berjalan tegap di atasnya dan karenanya hingga dengan selamat ke syurga yang dituju. Tetapi jikalau sebaliknya, maka mereka pasti akan tergelincir dan seterusnya masuk ke dalam neraka, Wal ‘Iyadzu Billah.

Dan untuk memudahkan kita memahami makna bahwasanya Shiratal Mustaqim itu, maka Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) telah menciptakan suatu perumpamaan atau tamsilan yang cukup bagus dan bagus sekali untuk kita jadikan sebagai materi renungan kita semua. Semoga dengan mengambil i’tibar ataupun pengajaran daripadanya kita akan termasuk didalam golongan yang berjaya melintasi Shiratal Mustaqim di alam abadi nanti, amin ya Rabbal ‘Aalamin.

Ringkasan tamsilan di atas ialah:

Shiratal Mustaqim ialah jalan lurus yang di kiri kanannya ada pagar, pada pagar terdapat banyak pintu yang terbuka, pintu-pintu tersebut hanya ditutup dengan tabir tipis, dan pada pangkal jalan yang lurus itu terdapat penyeru, dan di atas jalan juga ada penyeru. Jalan yang lurus itu yakni Islam, dan dua pagar yakni batasan-batasan ALLAH dan pintu-pintu yang terbuka itu yakni perkra-perkara yang diharamkan oleh ALLAH, dan penyeru di pangkal jalan yakni Al-Quran, dan penyeru di atas jalan pula yakni peringatan ALLAH yang ada pada setiap hati orang Islam.

Di Kiri Dan Kanannya Ada Pagar:

Berdasarkan hadis di atas Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menjelaskan bahwa dua pagar yang dimaksudkan pada kiri dan kanan jalan yang lurus itu ialah batasan-batasan Allah (Hududdallah). Umat Islam wajib menjaga batasan-batasan Allah dan mereka dihentikan melampaui batasan-batasantersebut. Dan ini berbeda dengan orang kafir. Bagi mereka tidakada pantang larang, bagi mereka sama saja antara halal dan haram. Itulah sebabnya maka Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda:

“Dunia yakni penjara bagi orang-orang yang beriman dan syurga bagi orang-orang yang kafir”

[HR Muslim]

Pada Pagar Terdapat Banyak Pintu Yang Terbuka Yang Hanya Ditutup Dengan Tabir Tipis

Nabi (sallallahu alaihi wasalam) menjelaskan dalam hadis bahwa pintu-pintu yang terbuka itu yakni perkara-perkara yang diharamkan Allah. Nabi (sallallahu alaihi wasalam) tidak menyampaikan bahwa pintu itu tertutup. Ini menggambarkan betapa mudahnya insan terjerumus ke dalam kancah maksiat. Kesempatan untuk melakukannya terbuka luas bagi orang yang mengingininya. Pintu itu juga digambarkan hanya ditutup dengan tabir yang tipis. Ini seakan-akan ingin menyatakan bahwa insan tidak perlu bersusah-payah untuk membolehkan mereka terlibat dengan dosa dan maksiat. Kecuali orang yang menerima pemberian Allah SWT.

Penyeru Pada Pangkal Jalan Yang Lurus Itu Adalah Kitabullah.

Berdasarkan hadis di atas bahwa yang dimaksudkan dengan penyeru itu ialah Kitabullah, ia menyeru: Hai sekalian manusia,masuklah kau semua ke dalam Jalan Yang Lurus, dan janganlah kau melencong (menyeleweng).

Tujuan Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT yakni sebagai pedoman bagi umat manusia, khususnya bagi orang-orang yangbertaqwa. Al-Quran menyeru kita semoga menTauhidkan Allah dan mengikuti pedoman yang dibawa oleh Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam). Jika kita turuti kehendak undangan tersebut, berarti kita telah berada dalam Islam yang bahwasanya dan itulah JalanYang Lurus.

Allah SWT berfirman: “Inilah JalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kau ikuti jalan-jalan (yang lain), lantaran (jalan-jalan itu) memecah-belah kau daripada jalanNya”. (Al-An’aam :153)

Penyeru Atas Jalan Itu Adalah Peringatan Allah Yang Ada Dalam Hati Setiap Muslim.

Gerak-geri dan tingkah laris insan sangat berkaitan rapat dengan hatinya. Akhlak yakni cermin hati. Jika hatinya baik maka biasanya akan baik pula akhlaknya. Demikian jugalah sebaliknya. Kaprikornus dalam hati kecil setiap muslim yang berimansenantiasa ada perasaan bencikan maksiat atau dosa.

Oleh lantaran itu setiap insan yang ingin menyingkap tabir pintu maksiat dalam kehidupannya sehari-hari, pasti hati nurani yang beriman kepada Allah akan segera berseru: Celaka engkau! Jangan engkau buka tabir itu, lantaran jikalau engkau buka juga nanti engkau akan terjerumus ke dalamnya.

Mungkin inilah sebabnya mengapa “Zikrul Qalb” iaitu zikir hati yakni lebih afdhal daripada “Zikrul Lisan” yaitu zikir lidah. Hati yang senantiasa ingat akan hukum-hakam Allah, dan hati yang senantiasa yakin bahwa Allahmelihat apa saja yang ia lakukan, akan sanggup menasehati dan memberi peringatan kepada anggotanya yang akan melaksanakan maksiat. Ini berbeda kalau zikirnya hanya terbatas pada zikir verbal saja tanpa diikuti oleh zikir hati.

Kesimpulan:

1. Setiap muslim/muslimat memohon kepada Allah minima 17 kali dalam sehari semoga mereka ditunjukkan ke Jalan Yang Lurus, “Ihdinash Shirathal Mustaqiim”. Ini menunjukan bahwa Jalan Yang Lurus itu yakni sesuatu yang paling mustahak bagi umat manusia.

2. Para Mufassiriin (Pakar Tafsir) berbeda pendapat perihal makna Shirathal Mustaqiim. Ada yang menafsirkannya dengan Islam, Al-Quran, Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Kesemua tafsiran itu yakni benar lantaran saling melengkapi.

3. Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menggambarkan dalam hadis di atas bahwa Jalan Yang Lurus itu yakni ISLAM. Dua pagar di kiri dan kanannya yakni batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka pada pagar yakni masalah yang diharamkan oleh Allah. Yang memanggil di permukaan jalan yakni Al-Quran, sedangkan yang memanggil dari atas jalan pula yakni bunyi hati muslim yang beriman kepada Allah.

4. Kaprikornus Shirathal Mustaqiim yang ada di atas muka bumi bukanlah titian atau jembatan yang terbentang, tetapi ia yakni ISLAM yang kandungan utamanya ialah himpunan suruhan dan larangan Allah sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam).

5. Keadaan insan saat melalui Shirathal Mustaqiim di alam abadi nanti yakni sama betul dengan keadaan mereka saat meniti Shirathal Mustaqim di dunia ini. Semakin berpengaruh dan kokoh pegangan mereka dengan Islam, maka akan semakin lancarlah perjalanan mereka di sana nanti. Al-Jazaa Min Jinsil ‘Amal (Balasan sesuai dengan jenis amal).
Tags: ,

Share This Post

Get Updates

Subscribe to our Mailing List. We'll never share your Email address.

0 comments:

Recent Articles

Blogroll

Recent News

© 2014 Cahaya Inspirasi.
Powered by Themes24x7 .
back to top