Tuesday, September 11, 2018

Surat Seorang Ayah Untuk Laki-Laki Yang Menikahi Anak Perempuannya

Posted by Mr sumari at September 11, 2018 0 Comments

Wahai para suami, ataupun para calon suami, istrimu yaitu pendampingmu. Coba renungkan goresan pena dari seorang Ayah ini.

Ayah yang rela melepas putri kesayangannya untuk dijadikan pendamping hidupmu, SELAMANYA...

Karena kelak, jikalau kamu mempunyai putri kecil, kelak kamu akan mungkin mencicipi hal yang sama...

***
Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, beliau menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yang tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, hingga kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah menyerupai itu kewajiban orang tua.

Kami besarkan beliau dengan segenap jiwa dan raga. Kami latih dengan semaksimal ilmu yang kami punya. Dan kami jaga beliau dengan penuh kehati-hatian.

Dan waktupun berlalu…

Dia sekarang telah menjadi sesosok gadis yang cantik. Betapa gembira kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dalam hati kami untuk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Namun sebagai orang tua, siapa yang sanggup berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.

Tapi,…

Hari ini, balasannya tiba juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dalam pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan setelah komitmen nikah ini, kamu lah sekarang yang menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.

Waktu balasannya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kamu yaitu orang yang absurd dan gres sebentar dikenalnya, sedangkan kami yaitu orang tuanya yang telah mengorbankan semua yang kami punya untuknya.

Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku.

Namun ijinkan kami sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yang harus jauh meninggalkan kami, alasannya yaitu harus mengikutimu.

Kamipun tak akan protes kepadamu, alasannya yaitu mulai hari ini, beliau harus mengutamakan kamu di atas kami.

Tolong, jangan beratkan hatinya, alasannya yaitu bahwasanya pun hatinya telah berat untuk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yang ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya.

Kami tidak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yang selalu menemani dan menolong kami di masa tua.

Kami menikahkanmu dengan anak gadis kami dan menunjukkan kepadamu dengan cuma- cuma, kami hanya memohon untuk beliau selalu kamu jaga dan kamu bahagiakan.

Jangan sakiti hatinya, alasannya yaitu hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dengan segenap jiwa raga, untuk menjadi penopang impian kami dimasa depan, untuk mengangkat kehormatan dan derajat kami.

Namun sekarang kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, alasannya yaitu berarti terjagalah kehormatan putri kami.

Jika kamu tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah beliau dengan cara yang baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti dia.

Suatu dikala beliau menangis alasannya yaitu merasa kasihan dengan kami yang mulai menua, namun harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi.

Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kamu pun mempunyai orang tua, pun dengan istrimu ini. Di dikala kamu perintahkan beliau untuk menemani orang tuamu disana, pernahkah kamu berpikir betapa luasnya hati istrimu?

Dia mengorbankan egonya sendiri untuk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa duka beliau alasannya yaitu dengan itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri.

Sama sekali tiada keluh kesah darinya perihal semua itu, alasannya yaitu semua yaitu untuk menepati kewajibannya kepada Allah. 

Dia mementingkan dirimu dan hanya sanggup mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, duka hati kami dikala jauh darinya. Namun apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya menyerupai itu, kamu lebih berhak atasnya dari pada kami, orang tuanya sendiri.

Maka hargailah beliau yang telah dengan rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah beliau yang telah menciptakan keputusan yang sedemikian sulit.

Maka sayangilah beliau atas semua pengorbanannya yang hanya demi dirimu. Begitulah cantiknya putri kami, Semoga kamu mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jikalau kamu menyadari.

Share This Post

Get Updates

Subscribe to our Mailing List. We'll never share your Email address.

0 comments:

Recent Articles

Blogroll

Recent News

© 2014 Cahaya Inspirasi.
Powered by Themes24x7 .
back to top