Sunday, March 10, 2019

5 Problem Utama Pasangan Yang Gres Punya Anak Dan Solusinya

Posted by Mr sumari at March 10, 2019 0 Comments
Sudah bukan diam-diam jikalau menjadi orangtua gres merupakan pengalaman yang mengubah banyak hal bagi pasangan.
Dengan hadirnya aksesori anggota keluarga yang membutuhkan perhatian ekstra, bertambah pula tantangan yang harus dihadapi suami dan istri dalam merawat hubungan.
Menjadi orangtua gres kerap mengubah sifat hubungan pasangan. Stres juga kerap mengintai suami dan istri, sehingga hubungan jadi lebih rawan konflik.
Komunikasi pun sanggup jadi tidak selancar biasanya, alasannya sebagian besar perhatian tercurah pada sang buah hati.
Berikut ini para psikolog dan terapis hubungan membuatkan wacana masalah-masalah yang kerap dihadapi orangtua gres beserta solusinya kepada The Huffington Post.
1. “Menjadi Orangtua Memberi Ketegangan Pada Hubungan Kita”
“Dengan jam tidur yang terbatas, perubahan jadwal kerja (serta cuti orangtua yang terbatas), dan tanggung jawab besar untuk merawat bayi yang rentan, banyak pasangan yang menjadi stres dan merasa tidak terkoneksi,” kata hanna Donhauser, seorang terapis anak dan keluarga sekaligus pendiri Happy Nest.
“Tetapi penelitian terbaru terus memperlihatkan pentingnya keharmonisan hubungan orangtua dalam keluarga. Ketika Anda berinvestasi dalam hubungan Anda, berarti Anda juga berinvestasi dalam keluarga dan kesehatan anak Anda.
Menghadiri terapi pasangan selama beberapa tahun pertama sehabis anak lahir sanggup membantu pasangan merasa terhubung, menavigasi tantangan dengan lebih baik, dan memantapkan fondasi hubungan mereka bersama.”
2. “Rasanya Saya Tidak Bisa Bergairah Lagi”“Tidak perlu memperlihatkan terlalu banyak tekanan pada diri sendiri, se*ks tidak akan terjadi dengan semua tekanan itu.
Ada beberapa hal aman yang sanggup dilakukan biar sanggup bekerjasama se*ks lagi. Pertama tidur. Kita tidak ingin melaksanakan apa pun ketika tidak cukup tidur, apalagi se*ks.”
“Kedua yakni waktu berduaan dengan pasangan Anda. Apakah Anda berdua sempat berkencan di malam hari? Sulit untuk membina hubungan int*im ketika Anda berdua dikelilingi popok kotor sepanjang waktu,” tutur Mabel Yiu, seorang terapis ijab kabul dan keluarga di California.
3. “Bagaimana Kita Bisa Mempertahankan Koneksi Terhadap Satu Sama Lain?”
“Sulit untuk pergi kencan makan malam atau ngobrol santai di kawasan tidur secara teratur ketika hidup Anda serasa jungkir balik.
Anda harus sadar untuk mengakibatkan hubungan yang berpengaruh dengan pasangan Anda sebagai prioritas, luangkan waktu untuk membangun momen-momen yang mengikat setiap Anda punya waktu dengan fleksibilitas.
Misalnya, Anda sanggup memakai waktu tidur atau waktu makan bayi untuk membuatkan kabar. Kirim pesan lucu untuk satu sama lain untuk membuat Anda dan pasangan tetap bekerjasama meskipun sedang tidak di rumah…”
“Pastikan untuk sesekali bercumbu dan melaksanakan kontak fisik ketika Anda berdua berada di ruangan yang sama.
Jangan mengabaikan keintiman Anda hanya demi si bayi, tidak peduli seberapa berpengaruh hormon Anda, alasannya Anda layak dan perlu mempunyai keintiman secara cukup umur juga,” kata Kari Carroll, seorang terapis ijab kabul dan keluarga di Portland, Oregon.
4. “Kami Tidak Tahu Bagaimana Harus Membagi Tanggung Jawab”“Orangtua gres sering membahas cara membagi kiprah di rumah mengingat beban yang meningkat secara signifikan sementara waktu luang yang tersisa juga menurun secara signifikan.
Ini yakni kondisi yang tidak ideal, sanggup membuat banyak konflik dan ketegangan di antara orangtua baru.”
“Banyak pasangan yang mulai menemukan keseimbangan lagi sehabis beberapa bulan. Jika hal itu tidak terjadi, duduk dan diskusikan hal-hal apa saja yang harus diperbaiki.
Apa yang paling masuk akal? Misalnya, jikalau salah satu orangtua tinggal di rumah dengan bayinya, maka secara alami banyak beban pekerjaan rumah tangga akan jatuh pada orang ini. Tetapi jikalau keduanya bekerja di luar rumah, diskusikan pembagian yang adil.
Nyatakan ini tanpa menyalahkan dan mengkritik, alasannya kemungkinan besar Anda berdua sama-sama tidak siap dengan hal ini,” tutur Marni Feuerman, seorang terapis ijab kabul berlisensi dan konselor pasangan di Boca Raton, Florida.
5. “Mengapa Pasangan Saya Tidak Mau Membantu Saya Mengurus si Bayi?”“Seringkali, saya mendengar dari klien bahwa pasangan ingin mempertahankan hobi mereka atau tetap bekerja sehabis bayi lahir, terutama laki-laki yang berada dalam hubungan heterose*ksual, dan mereka kerap mengabaikan pecahan mereka dalam merawat bayi.
Meskipun benar bahwa perempuan secara tradisional mempunyai kiprah membesarkan anak-anak, banyak perempuan juga bekerja dan merundingkan kembali tugas-tugas di dalam inti keluarga gres mereka.”
“Mengambil kelas pengasuhan dan berbicara dengan orang bau tanah lain, dokter, dan pasangan Anda sanggup menjadi cara yang baik untuk mempelajari keterampilan mengurus anak ini.”
Yang terang ayah dan ibu sama-sama mempunyai kiprah dalam mengasuh dan merawat anak.
Kedua orangtua akan harus mengorbankan satu atau dua hal dari rutinitas mereka sebelum ada anak dan porsi pengorbanan ini harus setara. Tidak sanggup dibebankan kepada satu orang saja.
Demikian masalah-masalah yang kerap dihadapi oleh orangtua baru. Semoga solusi yang disampaikan sanggup membantu Anda dalam menghadapi tantangan yang dihadapi ketika ini.
Sumber: merdeka.com

Share This Post

Get Updates

Subscribe to our Mailing List. We'll never share your Email address.

0 comments:

Recent Articles

Blogroll

Recent News

© 2014 Cahaya Inspirasi.
Powered by Themes24x7 .
back to top