Sunday, March 10, 2019

Sirnanya Kemuliaan Di Penghujung Ajal, Dongeng Ulama Besar Yang Meninggal Dalam Keadaan Kafir !

Posted by Mr sumari at March 10, 2019 0 Comments
Tak ada seorangpun yang tahu bagaimana simpulan dari perjalanan hidupnya di dunia ini. Apakah menjadi baik atau sebaliknya, malah menjadi jelek pada simpulan ajalnya, wal'iyadzubillah. Hanya Allah SWT-lah pemilik skenario itu.

Kisah spesialis ibadah berikut ini patut menjadi materi pelajaran bagi kita semua. Syekh Taqiyuddin al-Hanbali dalam Mashaib al-Insan min Makaid as-Syaithan menukilkan perjalanan hidup Syekh Barshisha. Sebelum simpulan hidupnya, Barshisha merupakan seorang hamba Allah yang andal ibadah dan sangat baik kebijaksanaan pekertinya.
Selama hidupnya, ia memiliki 60 ribu anak murid dan semua anak muridnya itu menjadi ulama dan para wali Allah SWT.

Saking luar biasanya, Barshisha, dalam kasus ibadah, sampai-sampai menarik decak kagum para malaikat. "Mengapa kalian kagum dengan Barshisha? Padahal, Aku lebih tahu. Barshisha itu akan kafir dan masuk neraka jahanam selama- lamanya," demikian obrolan Sang Khalik dengan para malaikat, menyerupai dinukilkan oleh Syekh Taqiyuddin dalam kitabnya tersebut.

Kisah yang sama juga ditulis oleh sejumlah ulama, di antaranya, Imam at-Thabari dalam tafsir surah al-Hasyr ayat 16-17 dari riwayat Ibnu Mas'ud, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, dan al-Bidayah wa an-Nihayah Juz II, serta Imam al-Qurthubi.  Pernyataan Allah itu ternyata didengar iblis.

Iblis yakin bahwa Sang Alim tersebut akan binasa dalam perangkapnya. Benar saja, iblis pun mulai menyiapkan agenda-agenda untuk memperdaya sasarannya itu. Iblis mendatangi kediaman Barshisha. Iblis menyamar sebagai seorang hamba Allah yang saleh dan taat. Ia meminta bertemu dengan Barshisha. Kemudian, Barshisha memperkenalkan diri dan bertanya pada tamunya.

"Engkau ini siapa dan apa maksudmu?" Iblis menjawab, "Aku ini hamba Allah yang beribadat kepada-Nya dan saya ingin pula membantu tuan dalam hal-hal ibadah." Kemudian, Barshisha berkata kepadanya.  "Barang siapa bermaksud beribadah kepada Allah maka bergotong-royong Allah akan mencukupinya sebagai teman baik."

Syahdan, selama beberapa hari, iblis menampakkan kegigihan dan keuletannya beribadah. Iblis beribadah tiga hari tiga malam berturut-turut tanpa tidur, makan, dan minum. Pemandangan ini pun menciptakan Barshisha takjub.
"Aku ini pernah tidur dan saya ini makan dan minum sedangkan engkau tidak makan sama sekali, padahal saya beribadah kepada Allah bertahun- tahun tanpa sanggup meninggalkan makan minum.  Oleh sebab itu, apakah dayaku semoga saya ini sanggup menjadi menyerupai engkau?" tanya Barshisha.

Iblis menjawab, "Pergilah engkau dari kawasan ini dan kerjakan larangan Allah, lalu sesudah itu tobatlah kepada Allah kerana Dia Maha Pengasih maka engkau akan mendapat kemanisan bertobat kepada-Nya."
Barshisha bertanya, "Bagaimana saya akan men durhakai Allah sesudah saya menyembah-Nya sekian lama?"
Iblis menjawab, "Manusia apabila berdosa memerlukan keampunan atas segala dosa-dosanya."
Barshisha bertanya, "Apakah dosa yang baik saya kerjakan?" Iblis menjawab, "Zina."

Barshisha berkata, "Kalau begitu, niscaya saya tidak melaku kannya."  Iblis menjawab, "Engkau bunuh seorang hamba Allah yang mukmin."  Barshisha berkata, "Aku tidak akan lakukannya." Iblis berkata lagi, "Kalau begitu minum sajalah air yang memabukkan, ini ialah yang lebih praktis dan ini ialah tidak ada kekerabatan dengan orang lain."

Barshisha bertanya, "Di manakah saya akan mendapat minuman ini?" Iblis berkata, "Engkau pergi ke salah satu kampung yang menjual minuman yang memabukkan."  Dengan serta-merta, Barshisha pun pergi ke kawasan yang ditunjukkan Iblis itu. Setelah ke kawasan itu, Barshisha pun menemui seorang perempuan elok lagi cakap yang pekerjaannya menjual minuman keras.

Barshisha membeli sebotol khamar dari perem- puan itu, lalu meminum hingga ia pun mabuk.
Dalam kondisi mabuk itulah, Barshisha lantas menzinai perempuan itu. Kemudian, dengan tiba- tiba, suami sang perempuan tiba di rumah. Merasa terpojok, akibatnya Barshisha membunuhnya.

Setelah insiden itu, iblis kembali menyamar sebagai insan biasa. Lantas, iblis membawa Barshisha kepada penguasa pada zaman itu.  Penguasa menjatuhkan eksekusi bahwa Barshisha harus dipukul 80 kali akhir meminum khamar dan ditambah 100 kali sebab berzina. Untuk pelanggaran terakhir, yaitu membunuh nyawa tak berdosa, Barshisha diganjar harus disalib.

Tatkala Barshisha dinaikkan ke tiang salib, iblis tiba ketempat Barshisha. Iblis menyamar seorang lelaki yang baik. Iblis bertanya, "Bagaimanakah pendapatmu ihwal keadaanmu sekarang?" Barshisha menjawab, "Malang bagi orang yang percaya kepada teman yang jahat, tentulah orangnya akan binasa."

Iblis menjawab, "Aku telah beribadat bersamamu sekian tahun lamanya, akulah yang menyebabkan engkau disalib. Jika engkau menghendaki turun dari tiang salib, saya akan menurunkan engkau."Barshisha menjawab, "Itulah yang saya maksudkan. Turunkanlah aku. Aku akan berikan apa yang kamu pinta dariku."

Berkatalah iblis, "Nah, sujudlah kepadaku." Barshisha menjawab, "Bagaimana saya bersujud, padahal saya terikat di tiang ini?"  Iblis menjawab, \"Sujudlah dengan menganggukkan kepalamu." Maka, Barshisha pun mengisyaratkan kepalanya dengan maksud sujud kepada iblis. Dengan sujud Barshisha, kafirlah ia kepada Allah dan pada agama-Nya.

Lantas, apakah iblis tetap menolong Barshisha?

Tidak. Ketika ia telah berhasil menyesatkannya, ia lepas tangan. Iblis berkata, "Aku melepas diri dari engkau (Barshisha), saya takut kepada Allah, Tuhan yang Mahabesar serta sekalian alam." (QS al-Hasyr [59]: 16).

Tugas kita sebagai insan yang lemah dan tak berdaya ini ialah berusaha bagaimana semoga sanggup mendapat sumbangan Allah SWT dari awal kehidupan hingga akhir. Ka- rena, bergotong-royong ke suk sesan seorang ham ba bukan saat hidup, melainkan pada pengujung hidupnya.

Dan, sebab Dialah pemilik hati sesungguhnya. "Sesungguhnya kalbu- kalbu keturunan anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya."
(HR Muslim dari Abdullah bin Amr RA).

sumber : khazanah.republika.co.id

Share This Post

Get Updates

Subscribe to our Mailing List. We'll never share your Email address.

0 comments:

Recent Articles

Blogroll

Recent News

© 2014 Cahaya Inspirasi.
Powered by Themes24x7 .
back to top