Sunday, March 10, 2019

Tuduh Istri Selingkuh, Dia Ngamuk Dan Nikahi Sang Mantan. Tak Disangka Fakta Sesungguhnya Buat Terenyuh!!

Posted by Mr sumari at March 10, 2019 0 Comments
Penyesalan memang selalu tiba belakangan. Terkadang, penyesalan terasa amat kejam melebihi hakim yang menjatuhkan eksekusi lantaran penyesalan yang tak sanggup lagi diperbaiki.
Seperti yang dicurahkan laki-laki ini.
Ia kehilangan harta paling beharga di dunia yaitu perempuan sholeha hanya lantaran buta mata hati oleh keluarga yang hanya melihat dunia.

Cerita ini yakni kisah aktual dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.
Semoga kisah aktual ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

Cinta itu butuh kesabaran…

Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???
hari itu, saya dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita. Aku menjadi perempuan yg paling bahagia. Pernikahan kami sederhana namun meriah. Ia menjadi laki-laki yang sangat romantis pada waktu itu.

Aku bersyukur menikah dengan seorang laki-laki yang shaleh, pintar, ganteng dan mapan pula.
Ketika kami berpacaran ia sudah sukses dalam karirnya. Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu.

Dan sehabis menikah, saya mengajaknya untuk umroh ke tanah suci. Aku sangat senang dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku, sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.

Banyak orang yang bilang kami yakni pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan saya senang menikah dengannya.
Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja lantaran hingga ketika ini saya belum sanggup memberikannya seorang malaikat kecil (bayi ) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Karena ia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi saya harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya. Alhamdulillah ketika itu suamiku mendukungku.
Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.
Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu dan adiknya tidak menyukaiku.
Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun saya selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku.

Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, saya dihina-hina oleh mereka.
Pernah suatu ketika satu tahun usia ijab kabul kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir menciptakan ku menjadi seorang janda itu.

Ia dirawat dirumah sakit pada ketika ia belum sadarkan diri sehabis kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang dan malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari daerah saya melaksanakan acara sosial ku, saya sibuk mengurus suamiku yang sakit lantaran kecelakaan.

Namun ketika ketika saya kembali ke rumah sakit sehabis dari rumah kami, saya melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga, saya melihat ada seorang perempuan yang sangat bersahabat mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, saya menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi saya tak boleh sedih di hadapannya.
Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “ Assalammu’alaikum ” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku lantaran sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan saya untuk memegang tangannya erat. Setelah saya menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “ Assalammu’alaikum ”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

Lalu Ibu nya berbicara denganku
“Fis, kenalkan ini Desi sahabat Fikri ”
Aku teringat dongeng dari suamiku bahwa sahabat baiknya pernah mencintainya, perempuan itu berjulukan Desi dan ia sangat bersahabat dengan keluarga suamiku. Hingga alhasil saya bertemu dengan orangnya juga.

Aku pun eksklusif berjabat tangan dengannya, tak banyak saya bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan dan mengobati luka-luka di kepala suamiku, gres sebentar saya membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang berjulukan Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian saya pun menemaninya.

Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada kami yg menjaga kakak disini. Kau istirahat saja.”
Anehnya, saya tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan kakak harus banyak beristirahat dan lantaran psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa saya tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku.

Tapi tiba-tiba ibu mertuaku tiba menghampiriku dan ia juga menyampaikan hal yang sama. Nantinya ia akan memberi alasan pada suamiku mengapa saya pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu berdasarkan apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya.

Akhirnya saya pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata. Sejak ketika itu saya tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku hingga ia kembali dari rumah sakit. Dan saya hanya sanggup menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

Suami ku sudah sehat dan insiden memilukan itu terjadi

Tiba-tiba saja malam itu sehabis makan malam usai, suamiku memanggilku.
“Ya, ada apa Yah! ” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya. ” Jawabnya tegas.
“ Ada apa? Mengapa? ”, sahutku penuh dengan keheranan.
Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, ia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.

Dia menyampaikan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!! ”
Lalu saya pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih lantaran suamiku kini tak ku kenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang absurd buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto ijab kabul kami, kini menjadi dingin. sangat cuek dari kerikil es.

Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya saya berontak berteriak, tapi saya tak bisa.
Suamiku tak suka dengan perempuan yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu memperlihatkan sikap ketidakhormatan kepadanya.
Aku hanya sanggup bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku.

Yah saya divonis kanker rahim stadium 3 ketika saya pernah memeriksakan kandungan ke dokter. 
Sedangkan suamiku tak lagi menyerupai dulu.
Kami telah hingga di Sabang, saya masih merasa lelah lantaran semalaman saya tidak tidur lantaran terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya.

Aku tidak tahu ada program apa ini. Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar renta itu, ia pun eksklusif keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
Saat tiba.
"Baiklah, lantaran kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha ”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.
"Ada apa ya Nek? ” sahutku dengan penuh tanya.

Nenek pun menjawab, "Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, hingga ketika ini kami tak melihat gejala kehamilan yang tepat lantaran selama ini kau selalu keguguran!! “.
Aku menangis.. untuk inikah saya diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?
"Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan alhasil menikahlah ia dengan kau. ” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang menyerupai itu semua.

Aku hanya sanggup tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
"Dan saya dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya ”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamiku hanya melamun saja, tapi saya lihat air matanya. Ingin saya peluk suamiku supaya ia besar lengan berkuasa dengan semua ini, tapi saya tak punya keberanian itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, "kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan? “
MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. saya ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap menyerupai ini terhadapku.
Aku selalu munutupi problem ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu, mereka mengira saya sangat senang 2 tahun belakangan ini.
"Fish, jawab! .” Dengan tegas Ibunya eksklusif memintaku untuk menjawab.

Aku eksklusif memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang cuek dan gemetar saya menjawab dengan tegas.
"Walaupun saya tidak sanggup berdiskusi dulu dengan imamku, tapi saya sanggup berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, saya akan menyambut baik seorang perempuan gres dirumah kami. ”
Itu yang saya jawab, dengan kata lain saya rela cintaku dibagi. Dan pada ketika itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku kemudian bertanya kepada suamiku, “ Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”
Suamiku menjawab, ” Dia Desi! ”
Aku pun eksklusif menarik napas dan eksklusif berbicara, ” Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam ijab kabul ini Nek?. ”
Ayah mertuaku menjawab, “ Pernikahannya 2 minggu lagi. ”
” Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok ”, sehabis berbicara menyerupai itu saya permisi untuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, saya berjalan sangat cepat, saya buka pintu kamar dan saya eksklusif duduk di daerah tidur. Ingin berteriak, tapi saya sendiri disini. Tak besar lengan berkuasa rasanya mendapatkan hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku.
Apakah lantaran ini suamiku menjadi orang yang absurd selama 2 tahun belakangan ini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, saya bercermin sambil bertanya-tanya, “ sudah tidak cantikkah saya ini? “
Ku ambil sisirku, saya menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata saya memang sudah tidak manis lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.
Malam sebelum hari ijab kabul suamiku, saya menulis curahan hatiku di laptopku.

Di laptop saya menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, saya murka pada suamiku yang telah menelantarkanku.
Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? hingga ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “ Aku Mencintaimu Suamiku. ”

Hari ijab kabul telah tiba, saya telah siap, tapi saya tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, saya melihat matahari, lantaran mungkin saja saya takkan sanggup melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. kemudian suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
"Apakah kau sudah siap? ”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :
"Nanti kalau ia telah sah jadi istrimu, ketika kau membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kau mencuci kakiku dulu, kemudian ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kau lakukan padaku dulu. Lalu sehabis itu.. ”, perkataanku terhenti lantaran tak sanggup saya meneruskan pembicaraan itu, saya ingin menagis meledak.

Tiba-tiba suamiku menjawab “ Lalu apa Bunda? ”
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya saya menunduk seketika saya eksklusif menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…
"Bisa kau ulangi apa yang kau ucapkan barusan? ”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.
Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.

Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, menciptakan hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “ Ayah jangan!! ”, tapi saya ingat akan kondisiku.
Jantung ini berdebar kencang ketika mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, saya menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati saya berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… saya kuat.

Sampai dirumah, suamiku eksklusif masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, ia tidak suka dengan ijab kabul ini?
Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak menyerupai saya dahulu, yang di musuhi.

Malam ini saya tak sanggup tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat saya cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.
Sepertiga malam pada ketika saya ingin sholat lail saya keluar untuk berwudhu, kemudian saya melihat ada lelaki yang menyerupai suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati kemudian kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan perempuan itu, ia ternyata tidur disofa, saya duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja saya kaget.
"Kamu tiba ke sini, saya pun tahu”, ia berkata menyerupai itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail.

Setelah sholat lail ia berkata, “ maafkan aku, saya tak boleh menyakitimu, kau menderita lantaran ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku ”
Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia eksklusif mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah usang ini tidak terjadi. 

Keesokan harinya…
Ketika saya ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. saya mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia eksklusif menggendongku. Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

Dari kejauhan saya mendengar bunyi zikir suamiku.
Aku mencicipi tanganku lembap Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.
Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ” Bunda, Ayah minta maaf… ”

Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?
Aku berkata dengan bunyi yang lirih, ” Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang renta bunda, anterin bunda kesana ya, Yah.. ”
“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak sanggup bergerak lagi.. saya tak besar lengan berkuasa lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.
Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

Aku senang melihat suamiku punya pengganti diriku..
Aku senang selalu melayaninya dalam suka dan duka..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran hingga kami menikah.
Aku senang bersuamikan dia. Dia yakni nafasku.

Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan saya telah hadir didalam kehidupan anakmu hingga saya hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu saya selalu berdo’a supaya Mama merestui korelasi kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, saya tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu saya selalu mengerti apa yang kau inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku? Aku dihina oleh mereka ayah.
Mengapa mereka sanggup baik terhadapku pada ketika ada dirimu? Pernah suatu ketika saya bertemu Dian di jalan, saya menegurnya lantaran ia adik iparku tapi saya disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah

Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa menyerupai itu ayah?
Aku tak sanggup berbicara ihwal ini padamu, lantaran saya tahu kau niscaya membela adikmu, tak ada gunanya Yah..
Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.

Aku cemburu pada Desi yang sangat bersahabat dengan mertuaku.
Tiap hari ia tiba ke rumah sakit bersama mertuaku.
Aku sangat marah.
Jika saya membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan niscaya membela Desi dan
ibunya.

Aku tak mau sakit hati lagi. Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku. Engkau Maha Adil.
Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah. Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku. Aku berusaha untuk berdikari ayah, saya tak akan bermanja-manja lagi padamu..
Aku besar lengan berkuasa ayah dalam kesakitan ini. Lihatlah ayah, saya besar lengan berkuasa walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku. Aku sanggup melaksanakan ini semua sendiri ayah. Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.

Perempuan yang saya benci, yang saya cemburui. Tapi saya tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku. Aku harus sadar diri. Ayah, bergotong-royong saya tak mau diduakan olehmu. Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?

Ayah.. saya masih tak rela. Tapi saya harus nrimo menerimanya. Pagi nanti suamiku melangsungkan ijab kabul keduanya. Semoga saja saya masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.
Aku ingin sekali mencicipi kasih sayangnya yang terakhir. Sebelum ajal ini menjemputku. Ayah.. saya kangen ayah..

Maafkan Aku Menuduhmu Istriku

Dan kini saya telah membawamu ke orang tuamu, Bunda.. Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.
Bunda akan selalu hidup dihati ayah.
Bunda..

Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah.. Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kau sakit pun saya tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..

Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih sanggup tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda Bunda, kau perempuan yang paling tegar yang pernah kutemui.

Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..
Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.
Maafkan aku, tak sanggup bersikap adil dan membahagiakanmu, saya selalu meng-iyakan apa kata ibuku, lantaran saya takut menjadi anak durhaka. Maafkan saya ketika kau di fitnah oleh keluargaku, saya percaya begitu saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di nirwana sana?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?
Tunggulah Ayah disana Bunda..
Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..
Ayah Sayang Bunda..

sumber : palembang.tribunnews.com

Share This Post

Get Updates

Subscribe to our Mailing List. We'll never share your Email address.

0 comments:

Recent Articles

Blogroll

Recent News

© 2014 Cahaya Inspirasi.
Powered by Themes24x7 .
back to top